Comfortable

“Comfortable ”

by Dalbo Suarimbawa
June 16th – June 30th 2007

LUKISAN DALBO SUARIMBAWA: MEMENTO, DE JAVU
(Kenyamanan yang Mengganggu)

Oleh: Raudal Tanjung Banua

1.
Kebetulan atau tidak, dalam beberapa bulan terakhir saya sedang melakukan eksperimen penulisan cerpen yang berangkat dari kenangan-kenangan atas peristiwa yang pernah saya alami, namun terasa baur, campur-aduk, berkelabat, kadang dekat, kadang jauh. Kenangan itu terutama atas kota-kota kecil yang pernah saya singgahi dan dalam beberapa hal selalu mengganggu, kalau tidak menggoda, dengan ingatan yang tak lekang—meski tak lebih sekadar bayang-bayang. Situasi ini bisa dikatakan sebagai memento, di mana bayangan itu membentuk gambaran sedemikian rupa menandai tempat atau peristiwa yang muncul silih-berganti seperti layer lebar dalam kepala. Beriringan dengan itu, ada pula bayangan-bayangan terhadap apa yang (mungkin) belum pernah saya alami, namun rasa-rasanya pernah terjadi. Ini terasa sebagai “kota-kota kecil yang terus hidup di kepalaku”, semacam de javu.
Antara memento dan de javu, di situasi itulah saya berada saat mencipta cerpen-cerpen dimaksud; merebut kelabat bayangan yang mengganggu alias menggoda itu, lalu secepatnya menangkap “ruh” tempat dan kejadian, jika tak ingin keburu hilang atau dingin. Nah, kebetulan atau tidak yang saya maksud di sini adalah ketika situasi tersebut juga dirasakan oleh orang-orang terdekat saya. Seminggu terakhir misalnya, anak saya, Tsabit (6 tahun), selalu menangis diam-diam, saat senja tiba. Ketika ditanya alasannya, di luar dugaan ia menyatakan, selain kangen pada mbahnya di Bali (hal yang tak asing lagi), terutama ia juga teringat suasana perjalanan naik bus Yogya-Bali atau sebaliknya. Ia bilang teringat “kota lampu” Paiton, orang-orang yang menjual pop-mie, kopi dan nasi bungkus di pelabuhan, gunung yang disaput kabut pagi saat kapal menyusuri Selat Bali, dan seterusnya. Apakah anak kecil juga mengalami memento atau de javu? Mungkin saja. Hal lain lagi, hampir setahun ini, istri saya selalu bermimpi hal yang sama: ketemu sahabat waktu sekolah menengah pertama, sahabat laki-laki yang diam-diam disukainya.
Puncak dari ini adalah ketika saya berkunjung ke studio Dalbo Suarimbawa,  pelukis kelahiran Juwuklegi, Bali, 10 Oktober 1977, dan menemukan situasi yang lebih kurang sama dalam lukisan-lukisannya. Bukan pertama bagi saya menyaksikan lukisan Dalbo, baik saat ia berpameran,  maupun dalam kunjungan saya diwaktu lain ke studionya di Gunung Sempu itu. Sejumlah sketsanya juga pernah saya muat di Jurnal Selarong terbitan Dewan Kebudayaan Bantul. Namun entah mengapa, menyaksikan lukisan-lukisannya kali itu menerbitkan rasa yang lain, semacam perjumpaan kembali dengan banyak tempat dan peristiwa, sebagian tidak tahu persis apakah memang sudah berjumpa atau mengalaminya. Kalau pernah, kapan atau di mana, tidak jelas benar. Berbarengan dengan itu, Dalbo menyatakan akan berpameran tunggal di SIKKA Gallery, Ubud, Bali, dan saya diminta—lagi-lagi dengan kebetulan atau tidak!—untuk mengantar dengan sebuah tulisan.
Tanpa harus berbasa-basi saya nyatakan bersedia, sudah barang tentu dari persfektif saya yang lebih banyak menekuni teks sastra. Setali tiga uang, apa yang saya alami selama beberapa waktu ini—memento dan de javu—menyadarkan saya bahwa teks (sastra) tidak hanya ber-(mem)bentuk narasi, melainkan juga ber-(mem)bentuk gambar(-an), bayangan, simbol dan tanda-tanda—yang tidak semuanya bisa dirangkai kata. Sebaliknya, sebuah lukisan (rupa) tidak hanya ber-(mem)bentuk objek benda, tapi juga menghadirkan peristiwa, ingatan dan cerita—yang tak semuanya bisa disapu warna. Keduanya, saya kira, memiliki kekuatan menghadirkan kembali apa yang secara konkrit pernah dialami seseorang atau kolektif, dan disaat sama dapat menjadi medium untuk menerka atau meraba-raba tempat dan peristiwa yang, meminjam selarik puisi Umbu Landu Paranggi, “rasa-rasanya padanya segala manis”, tapi entah kapan dan di mana.
Ketika  seamsal pengalaman saya dan keluarga seperti diceritakan awal dibawa ke ranah lukisan Dalbo Suarimbawa, ternyata terasa klop. Setidaknya apa yang menjadi ingatan atau klangenan kami—yang dalam sejumlah bagian saya tuliskan menjadi cerpen itu—mendapatkan ruang tersendiri ketika menyaksikan lukisan Dalbo. Ada yang diam-diam terkonkritkan, meski mungkin tak persis benar, namun penjelajahan atas tempat dan peristiwa dalam kepala menemukan padanannya yang cukup pas di atas kanvas. Apalagi kalau itu kanvas Dalbo yang membebaskan. Maka, kenangan dan ingatan bangkitlah…

 2.
Ya, memasuki lukisan-lukisan Dalbo serasa membangkitkan memento dan de javu sekaligus: bayangan-bayangan menjadi konkrit di atas kanvas, meski tidak ada titik pusat, dan objek tidak bisa langsung diberi nama, tapi justru dengan itu ingatan kita menyebar ke segala arah dan segala sesuatu terbentuk lewat persepsi setiap ingatan. Dengan lukisan yang rata-rata berukuran besar, terasa sapuan kuas begitu bebas memenuhi keluasan kanvas, tak tahu manakah awal atau akhir, tapi jelas ada frame yang kemudian membingkai sebuah ruang. Saya juga tidak tahu persis proses kreatif Dalbo dalam penciptaan, apakah seperti pelukis Frans Nadjira misalnya yang memakai teknik psikografi, tetapi tetap memiliki satu titik-mula; atau seperti Hanafi yang mengikuti elemen ketidaksadaran.
Yang jelas, di ruang tanpa batas itulah terasa ada siklus yang tak putus, objek yang tak tunggal, dan warna yang tak memaksa. Lewat cara ini peristiwa diam-diam bekerja, nyaris tak terasa, sampai kita sadar telah terbingkai (tak hendak memerangkap) dalam satu semesta kecil, sepenggal narasi atau cerita yang terbuka. Artinya, sebebas apa pun objek, warna dan bentuk, atau bahkan kebebasan itu sendiri di dalam kanvas Dalbo, pada akhirnya, disadari atau tidak selalu ada bingkai yang menyertainya. Meski sekali lagi saya katakan bingkai tersebut tak berhasrat memerangkap, tetapi bisa dipakai sebagai password, atau pintu masuk, apalagi dalam konteks lukisan abstrak (?) yang kadung dianggap sulit dipahami. Judul lukisan, tentu juga bisa dipakai sebagai pintu masuk, meski terkadang dapat membatasi interpretasi  kebebebasan mencari sendiri bagi audiens, tapi pada berapa bagian harus diakui dapat membantu seseorang, setidaknya dalam memfokuskan perhatian (apalagi judul lukisan Dalbo cukup puitis!). Ini paralel dengan pengalaman menikmati teks sastra atau musik jazz, yang penuh kemungkinan kalau bukan improvisasi, namun selalu ada plot utama atau komposisi dasar untuk kembali.
Demikianlah misalnya, bingkai dalam lukisan-lukisan Dalbo bisa terbentuk dari objek dan warna-warna yang sengaja diciptakan, seperti dalam lukisan “Kondom” yang memang diberi bulatan/lingkaran mengingatkan pada lobang kunci intipan seakan mengatakan, “Kondom itu ‘rahasia negara’, Bung!” (Di kepala saya, entah mengapa berkelabat ingatan atas sajak “Malam Pengantin” Sutardji Calzoum Bachri). Atau lukisan “Jejak Kenangan” yang ditandai warna putih menyerupai bantal sebagai benda yang sangat personal. (Tiba-tiba saya teringat sajak Saut Situmorang yang sarat kenangan, “Disebabkan oleh Rendra, 3”). Tapi kehadiran bingkai tersebut bukan untuk mematikan potensi objek, warna atau narasi lain, justru menghidupkannya. Seorang anak yang terbentuk dari gumpalan cat secara acak di atas ujung kondom, menunjukkan pertumbuhan yang tidak diinginkan. Ini dipertegas lagi oleh garis hitam-coklat horisontal di tengah bulatan, semacam pesan blacklist atas pertumbuhan atau kelahiran (baru).
Begitu pula ketika menyaksikan lukisan “Titik Nadi’titik Gelombang”, entah mengapa ingatan saya mengarah ke sebuah lembah yang terbuka dengan segala peristiwa (bertolak belakang dengan asosiasi gelombang, yang disarankan judul, sebab saya lebih merasa sebagai ‘cekungan’, lembah). Ada goresan acak agak tebal dan dominan, tegak melengkung di sudut ruang, lalu menyebar lewat cecabang garis ke sudut dan bagian-bagian lain. Tanpa terasa, itulah frame yang membentuk ingatan pada sebuah cerita yang pernah saya tulis,”Lembah yang Riang dan Kemilau Mata Air” yang secara kebetulan merupakan respon kreatif, kalau bukan interteks, atas teks Gus tf Sakai, “Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta”. Ada bayangan sesosok orang, bersimpuh, nun di lembah, memantulkan semangat pergulatan yang tak usai, dan dalam konteks cerita saya terbayangkan sebagai tokoh perempuan yang berani mempertahankan dari penggusuran villa peristirahatan. Atau dalam cerita Gus tf Sakai, sosok dalam lukisan Dalbo itu, mengingatkan tokoh si perempuan buta yang begitu bahagia meski buta tapi sudah bersyukur merasakan denyar cahaya. Ingatan lain membawa saya ke puisi Zen Hae yang kebetulan sedang saya sunting untuk diterbitkan Akar Indonesia, yakni “Lembah Riang dan Mayat Canggung”. Ada perjumpaan-perjumpaan tak terduga serentak menjelang dengan teks-teks lain, begitu lukisan berukuran 145 x 200 cm itu berhasil membangun bingkai imajinatif berupa pohon besar yang cabang-cabangnya kemudian menaungi ruang cekung yang tersosiasikan sebagai lembah. Ini tidak saja membawa saya berjumpa kembali dengan teks puisi dan cerpen yang pernah dibaca atau saya ciptakan, namun juga ke ingatan harfiah akan lembah-lembah Bukit Barisan di Sumatera atau lembah simbolik tak bernama yang hanya ada dalam kepala.
Tapi banyak pula bingkai yang dibiarkan terbentuk dengan sendirinya melalui objek yang ada, seperti lukisan “Fantasi”. Di sini terlihat tubuh seseorang dalam keadaan limbung atau bergerak dengan sentakan, namun dengan secercah warna kuning di bagian kepala, tubuh hitam kelabu yang sedang mengibaskan sesuatu itu, menghadirkan narasi yang tak sekadar. Tentu ini tidak terlepas dari asosiasi dan interpretasi saya sebagai penikmat, yang melihat secercah warna kuning itu seperti warna bunga yang kerap diselipkan di telinga orang Bali. Jadi, apakah namanya kalau bukan perjumpaan kita dengan Bali yang sedang bergerak ke depan (dengan konsep ajeg-nya), tapi tampak limbung dan terhuyung?! Begitu pula lukisan “Meditation of Love”, tubuh yang sedang bermeditasi yang dimunculkan sebagai objek tunggal, sebenarnya adalah bingkai dari objek-objek kecil lainnya yang lebur di dalam lengkung tubuh itu. Sebab, dalam lukisan Dalbo, tekstur, pilihan warna, bahkan lelehan cat, merupakan objek tersendiri yang dapat diasosiasikan oleh setiap kepala dengan bebas.
Ya, proses meresepsi lukisan-lukisan Dalbo saya rasakan memang seperti mencerap dan mengasosiasikan “lukisan-lukisan alam(i)” di dinding gua, di kulit pohon, di tembok-tembok kota penuh coretan, di langit-langit kamar, sampai ke jelaga dapur dan dinding toilet. Jangan berprasangka buruk dulu. Yang saya maksud adalah kedekatan pengalaman ketika tidak sengaja kita mendapatkan bentuk-bentuk tak terduga dari goresan cat, tempelan debu, karat besi, retakan dinding (karena gempa), jaring laba-laba, tembok yang terkelupas, atau corat-coret di toilet. Dan itu semua menjadi pengantar untuk bertemu dengan tempat dan peristiwa yang pernah kita alami, atau yang masih susah-payah kita duga di mana dan kapankah gerangan kita mengalaminya. Saya sering merasakan pengalaman ini, dan sungguh merupakan resepsi yang sangat personal! Ketika malam-malam tak bisa pejam, mata tertumbuk ke langit-langit kamar, dan di sana bekas rembesan hujan tampak seperti seorang bongkok memegang payung. Ingatan berkelabat  kepada masa kecil, kepada komik-komik yang dipenuhi tukang sihir dengan payung hitam yang tak pernah terkembang sehingga selalu mengerucut runcing seperti hidung si tukang sihir. Ketika berlama-lama di toilet, mata saya asyik memperhatikan tekstur kayu pada pintu yang tampak seperti peta sebuah kota entah di mana, dan tak tahu apakah saya pernah berjumpa dengannya atau tidak. Begitulah seterusnya.
Namun, situasi ini tentu saja akan berbeda ketika diperhadapkan dengan sebuah karya cipta. Dalam lukisan-lukisan Dalbo, asosiasi yang terbentuk itu stabil dan sublim, jika pun ada penjelajahan lalu perubahan cara pandang, hasilnya tetaplah merujuk pada pandangan pertama ketika asosiasi itu terbentuk. Sebab, seperti saya katakan, kebebasan goresan Dalbo bukanlah ruang hampa alias tanpa bingkai, terbukti misalnya, lukisan “Titik Nadi’titik Gelombang”, yang kebetulan sempat saya diskusikan dengan Ida. Dalam pandangan si Ida, lukisan tersebut juga merujuk ke lembah (sebagai bingkai “cerita”), cuma saja ia berbeda menafsirkan sosok yang ada, dan itulah yang memperkaya suasana.
Hal yang sama saya kira tidak jauh berbeda dengan karya instalasi Dalbo. Lihatlah, boneka-boneka ditempatkan berjejer dan sebagian menumpuk di atas bantal,  dan patung keramik dideformasi (lewat bengkokkan) yang dibungkus koran. Bantal dan Koran adalah idiom yang membingkai instalasi ini dari kemungkinan keterpecahan; yang satu menunjukkan di mana kenangan lahir paling subur, ialah di tempat tidur, ruang paling personal yang melahirkan banyak cerita. Yang satu lagi menunjukkan sosok-sosok (massa) yang dibungkus media, tempat paling sibuk dalam melahirkan berita.
Jika hendak dibawa ke memento dan de javu kami, maka kota-kota kecil adalah bingkai yang selalu menyertai saya; bus yang melaju adalah bingkai kenangan anak saya, Tasbit; dan masa di sekolah menengah pertama adalah bingkai ingatan istri saya, Ida.
Tetapi sekali lagi,  frame imajinatif ini tentu berbeda dengan frame yang sudah dituangkan dalam karya cipta. Frame kota-kota kecil ketika saya tuangkan ke dalam cerpen terasa berbeda dengan yang ada dalam kepala; masa di sekolah menengah pertama yang dibayangkan Ida, berbeda ketika ia tuangkan ke dalam puisi; barangkali bus dan pelabuhan dalam bayangan Tsabit yang kemudian dia gambar juga berbeda dari yang ia angankan! Itulah ketidaknyamanan penciptaan: selalu tidak merasa puas ketika gagasan dikeluarkan, selalu merasa jauh dari yang diinginkan. Tapi, ini justru sehat, karena berkat ketidaknyamanan akut semacam inilah penciptaan terus dimungkinkan secara maksimal, meski ada ungkapan yang menyatakan bahwa rata-rata seniman berada di posisi kegagalan yang indah…
Demikian halnya dengan frame lukisan-lukisan Dalbo yang membuatnya tidak seperti “permen karet”. Ada limit-interpretasi yang membingkai (bukan membatasi) kebebasan; semacam ketidaknyamanan penciptaan. (Bukankah penciptaan konon juga dekat dengan pembacaan?). Semua ini dimungkinkan, tidak saja karena objek dan warna dalam lukisan Dalbo sangat referensial, dalam konteks masa lalu dan kekinian, maupun hubungannya dengan nilai karya cipta itu sendiri. Salah satunya terbangun atas frame itulah, sebagai kerangka gagasan, sekalipun bingkai itu mungkin lahir di luar sadar, namun itulah soliloqui sang seniman. Dalam konteks Dalbo, konsepsi catur warna (merah, kuning, hitam dan putih) merupakan hasil penggaliannya atas spirit Bali yang sangat dasar. Ini cocok sekali dengan dinamisasi lukisan-lukisannya, di mana objek dan warna tidak secara mencolok “menantang” kita. Namun seperti dikatakan tadi, masuk lewat  respon pembacaan (asosiasi, interpretasi). Selain itu, konsistensi Dalbo berekspresi dengan corak abstrak menorehkan jejak pencarian dan penjelajahan yang luas. (Intermezzo: boleh jadi sama dengan konsistensi rambut gimbalnya! Hahaha…)

3.
Jadi, konsep berkesenian Dalbo yang mengeksplorasi catur-warna terlihat dalam hampir setiap lukisannya. Konsep ini sendiri sebenarnya perlu diapresiasi khusus terutama dalam cara pandangnya mengambil irisan Bali yang lain. Warna-warna Bali ditangkap dengan spesifikasi dan identifikasinya sendiri sehingga membentuk ciri khas kalau bukan trand-mark Dalbo Suarimbawa (meski belum sepenuhnya utuh). Tapi setidaknya, Dalbo ke luar dari warna streotipe atas Bali, katakanlah warna kain poleng yang hampir dengan lumrah dijumpai dalam lukisan pelukis Bali atau lukisan tentang Bali. Dalbo masuk ke fase lain, meski jika diperhatikan tidak menisbikan warna tanah kelahiran,  tetapi tampil dengan asosiatif. Bahkan catur-warna sendiri tampil klasik, halus dan memikat di tangan Dalbo. Objek-objek Bali pun tidak sepenuhnya dilepas, semisal sawah hijau bertingkat, bunga dan perahu-jukung, tetapi sudah mengalami deformasi pada tingkatan minimalis (simbolik) jika tidak ekstrem.
Lalu, bagaimana dengan tema pameran Dalbo kali ini? “Kenyamanan (comfortable),” demikian tawarannya. Saya kira ini menjadi sangat aktual, jika tidak urgen, di tengah situasi yang meminjam selarik sajak Cahiril Anwar, “mendesak-menekan, hingga ke puncak” ini. Kenyamanan, sebagaimana dipaparkan Dalbo dalam konsep pameran tunggal perdananya ini, adalah ketika ia merasa baik-baik saja, senang, bisa berpikir, berkompetisi, menentukan prestasi dan memiliki privasi. “Kenyamanan bagiku adalah juga ketika aku berada di tengah orang-orang yang kusayangi, kucintai serta mampu memberikan sesuatu kepada orang lain tapi punya keberanian pula menerima sesuatu dari orang lain,” tambahnya. Jelas, ini kenyamanan yang ideal dan aseli. Alih-alih mendapatkannya di tengah zaman nungkalik ini (meminjam ungkapan Ketut Sumarta), yang terjadi justru sebaliknya.
Dalbo menyadari ini, maka dengarlah betapa sangat kulminalnya pengakuannya kemudian,”Setiap orang diyakini memiliki tujuan kenyamanan (ideal-RTB), dan akhirnya kami pun bersaing. Setiap hari, setiap jam, setiap detik, kami bersaing supaya bisa meraih kenyamanan, tetapi yang kami peroleh justru keruwetan, kepusingan, kegagalan bahkan penderitaan. Semua orang berjuang meraih kenyamanan tanpa mengetahui apa arti kenyamanan. Kenyamanan menjadi absurd, abstrak, sulit digambarkan sekalipun dalam pikiran. Kenyamanan bukan lagi keramahan, bukan lagi cinta kasih, bukan lagi ketenangan berada di tengah-tengah kehidupan. Kenyamanan kini menjadi mimpi, menjadi barang yang tak jelas, bahkan berbentuk paranoid!”
Menjadi jelas di sini bahwa kenyamanan yang ditawarkan Dalbo bukanlah kenyamanan dalam pengertian umum, tetapi sebaliknya bisa sangat paradoks. Lukisannya yang dipenuhi objek-objek asosiatif, kadang jumud dan massif, beberapa garis muncul lepas atau menetes dari sapuan warna, selintas memunculkan suasana yang justru chaos. Meski pada tingkatan judul misalnya dituliskan celah tetesan air, atau daun hijau pagi hari, namun apa yang muncul di kanvas bukanlah gambaran wadag seperti itu. Celah tetes-tetes air justru menampilkan kerasnya kontur batu, dengan percikan air berupa bekas cakar; dan kehijauan dipagi hari justru didominasi warna hitam. Tergurat pesan eksplisit: kenyamanan bukanlah warna yang hitam-putih, melainkan kaya dimensi. Dan memento maupun de javu merupakan ranah alternatif untuk mendapatkan itu, tak terkecuali dengan medium lukisan bebas seperti di kanvas Dalbo Swarimbawa.
Dengan itulah kita mendapatkan kenyamanan yang tidak mapan, selalu bergerak dan berubah. Kenyamanan selalu menjadi titik-balik untuk “mencurigai diri sendiri”, terutama dalam mengkritisi kemapanan dan mainstream. Kenyamanan dengan demikian harus dijadikan senjata untuk senantiasa “mengganggu” kesadaran, bukan sebaliknya, meninabobokkan dan melenakan diri. Saya jadi mengerti mengapa di studionya yang tenang dan sunyi di atas Gunung Sempu, Dalbo sering mengeluh,”Terlalu nyaman…”
Dalam konteks kami, kenangan ketika ditolak menginap di hotel karena tak membawa surat nikah di sebuah kota kecil, justru menjadi kenangan konyol-konyol lucu ketika momentum memento berkelabat. Sebaliknya, kenangan indah Tsabit ketika bersama mbahnya di Bali, menjadi hal yang menyedihkan saat mereka berjauhan. Mimpi-mimpi Ida atas cinta-kasih cap monyet di sekolah menengah pertama yang tak kesampaian, sekarang menggodanya untuk menulis sajak tentang misterinya ingatan, dengana berkali-kali merutuk,”Sialan!”. Sungguh, mengenang tidak selamanya bikin nyaman, sebab tak selalu berada dalam perjumpaan yang menyenangkan (apalagi kalau ketemu memento mori, hi!). Tapi dengan begitulah kenangan terus datang, membawa ke(tak)nyamanan yang berulang. Seperti menikmati lukisan dan instalasi Dalbo ini!
Demikianlah kiranya. Selamat berpameran dan salam kreatif.
Yogyakarta, 29 Mei 2007

(Raudal Tanjung Banua, Koordinator Komunitas Rumahlebah Yogyakarta dan Ketua Redaksi Jurnal Cerpen Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *