ART FOR ARTIST SAKE

” ART FOR ARTIST SAKE ”

by I Made Muliana ” Bayak ”

October 11th – october 31th 2008

ART FOR ARTIST SAKE

Dengan judul seperti diatas itu saya ingin melihat persoalan bagaimana seni itu bisa menjadi katarsis bagi diri sendiri. Artinya berkesenian itu intinya adalah untuk keperluan pengungkapan nilai-nilai artistik kita untuk kepuasan kita, baru kemudian ada orang lain yang mempunyai pengalaman estetik atau mempunyai cita rasa estetik tertentu dan ingin menikmati karya itu dengan jalan mengkoleksi, mengapresiasi, memberi masukan atau kritikan atau bahkan bertentangan dengan idea atau pengalaman artistiknya. Karena setiap orang termasuk saya sendiri mempunyai berbagai macam persoalan yang sedemikian kompleksnya, jadi apresiasi orang akan sangat berbeda pada setiap karya dan seniman.

Seni saya pergunakan untuk menyampaikan persoalan-persoalan yang ada sisekitar saya karena dengan kesenilah sementara ini saya bisa berbuat, dengan harapan suatu saat nanti dengan kesenian saya akan dapat merubah lingkungan sekitar. Setidaknya untuk sekarang kegelisahan, kemarahan, opini, kritik sosial dan budaya ataupun cinta saya kepada keluarga dan orang-orang terdekat tersampaikan lewat karya-karya, baik itu lukisan, stencil, object, performance art, instalasi, video art bahkan musik underground dengan band saya. Menurut saya jika suatu ide belom maksimal dapat divisualisasikan dengan satu bahasa ungkap lalu kenapa harus dipaksakan dengan satu bahasa ungkap? Karena itu saya memilih untuk membiarkan ide-ide saya mencari bahasa ungkapnya sendiri sesuai dengan suasana hati saat gagasan itu datang dan pada saat eksekusi karya itu dilakukan, sehingga souls dari setiap karya itu ada.

Seni adalah kenikmatan bermain-main, kesalahan adalah seni dan berkesenian seharusnya menyenangkan. Itulah tiga kalimat yang menggambarkan kesenian saya. Layaknya ketika kita sedang bercinta, ketika merasakan pasangan kita mengalami orgasme dan kita juga mendapakan orgasme yang bersamaan, seperti itulah seharusnya roh dari kesenian itu. Jadi ada timbal balik, kita merasa puas berkesenian demikian juga penikmat kesenian kita akan merasakan hal yang sama. Menurut saya untuk apa berkesenian kalau sudah tidak menyenangkan lagi, akan percuma jika kita berkesenian namun pikiran kita susah dan penuh dengan beban? Pada saat gagasan itu muncul,tentunya pasti ada beban bagaimana kita harus mengungkap dan menyampaikan ide tersebut?, namun ketika itu sudah dieksekusi semua urat syaraf menegang dan kejang, layaknya seperti air mani yang mau keluar, kalau saatnya sudah muncrat, semuanya terasa lega.

Coba kita sama-sama membayangkan kenapa seorang Jimi Hendrix ataupun Jimmy Page, Tom Morello, Ian Antono, Pay atau Danky Navicula ketika diatas panggung memainkan lagu-lagu meraka sampai merem melek? Atau kalau melihat video dan performance dari Salvador Dali ketika dia melakoni film atau performacenya, ada jiwa yang hidup disana, seolah dia memberikan separuh jiwanya untuk setiap karya yang dikerjakan. Itulah Souls dari kesenian mereka yang mereka tuangkan dalam musik lagu, film atau bentuk kesenian lainya. Kemudian pertanyaannya, pernahkah kita sampai sedemikian intens pendalaman terhadap karya-karya kita dalam mengeksekusi gagasan?

Terlepas dari bidang kesenian yang berbeda satu sama lainya dalam hal mengungkapkan gagasan, namun ada satu bahasa universal yang bisa kita tangkap dan rasakan dalam kesenian, yang kadang2 perasaan itu tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata malah hanya cukup dirasakan saja, dan kita tahu bahwa suatu seni itu mempunyai jiwa yang hidup dan membuat kita senang, terganggu atau malah membencinya.

Demikianlah gambaran singkat gagasan dalam pameran yang coba saya hadirkan di Sika Gallery ini, terlepas itu mampu atau tidak memberikan sumbangan kepada dunia kesenian Bali atau Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *