Organ

“Organ ”
by Putu Sutawijaya
May 8th – 30th 2000

Organ

Dihadapanku, tubuh – tubuh tanpa jenis kelamin itu bergelantungan tak menyentuh tanah. Hendak aku artikan apa bentuk rupa ini.
Apakah itu makhluk halus ? Apakah dia makhluk luar angkasa ? Apakah dia sebuah jenis binatang langka ? Akhirnya aku memilih arti yang sederhana… baiklah dia manusia.
Tapi bukankah harus ada identitas jenis kelamin pada manusia ? Sementara itu tidak menjawab sebuah jenis kelamin apapun, kecuali ada raut muka pria di bagian kepalanya. Akhirnya aku sepakat dengan aku menjawab bahwa ia masuk dalam tataran pria dan wanita sekaligus. Dengan dibalut selembar cawat, tubuh kekar berwarna coklat itu tidak dibatasi secara tegas oleh area yang menampakkan adanya bagian sakral dan profan. Keberadaan telah menghancurkan manifestasi suku, ras, dalam dirinya, ia anonim, bukan manusia jawa, manusia makasar, manusia londo. Ia hanya menyatakan nyawanya dengan sebuah paparan gerak. Kepalanya ada yang mendongak ada yang merunduk. Kadang tangan merentang ke atas kadang merentang ke bawah. Kadang sosoknya mengingatkan kita pada tubuh Yesus yang disalib. Tapi sekian saja, aku tidak ingin memberi arti lebih selain dia manusia anonim. Namun karena aku yakin bahwa dirinya cukup bernyawa, maka kuberanikan diri untuk menyapa salah satu dari mereka.

“Selamat malam, mengapa engkau tak mau menampakkan kakimu ke tanah ? ” Hukkkk… (suaranya dikentali dengan dahak di tenggorokannya), aku dipaksa..” Siapa yang memaksamu ? “Manusia-manusia itu… Manusia-manusia itu… di sana itu…Memberiku obat…obat bius, sehingga aku melayang-layang tidak karuan,” lanjutnya dengan lirih. Siapa manusia itu ? tanyaku dengan penasaran…….
Mereka telah mencabut kakiku dari tanahku, telah mencabutnya sampai ke akar-akarnya. Sampai-sampai aku lupa namaku sendiri. Aahhhh…melafalkan hurufnya saja aku lupa. “Tapi kamu masih ada… masih hidup ? “Yah… untungnya aku masih bergerak. Tanpa disuruh, tanganku bergerak-gerak sendiri, kakiku mengangkang dan merapat begitu saja. Tanpa disuruh, kepalaku mendongak dan menunduk. Aku masih hidup…!” Apa arti gerakanmu? AKU TIDAK TAHU1 Hanya bergerak saja. “kamu tidak lapar?” Yah… dulu aku selalu dikenyangkan mereka. Sekarang tidak lagi.
Aku dikenyangkan tapi disuruh melupakan diriku sendiri! Sama mereka!! SIAPA MEREKA? OH… mereka yang sering merancau saja itu. Meracau terus saja tak tentu arah”

Tiba-tiba seonggok tubuh disampingnya berteriak…”JIKALAU ENGKAU TEMANKU, TOLONG BUNUH AKU…BUNUH AKU…AGAR JELAS, APAKAH KAKIKU HARUS MENYENTUH TANAH ATAU TIDAK MENYENTUH TANAH ?” Sembari berteriak, aku lihat matanya menitikan air mata. akupun hampir tersedak, tapi tidakkk, aku tidak mau dilihat menangis. “Aku tidak bisa membunuhmu, tapi mari kita menari bersama,” jawabku. Kemudian aku ambilkan sebuah gong2 berkarat, meletakanya persis diatas jari-jarinya agar dia bisa menapak. “Aku mengikuti gerak kakimu”…Agak ragu, tapi tubuh itu tetap berkata” Yah…aku …coba!”

Lalu kakkinya mulai melantuk. Setiap tapaknya diatas gong melantunkan bunyi tertentu. Dan seterusnya, gong itupun ditabuh oleh gerak kakinya. Kadang lamat- kadang kuat -sehingga akhirnya lahirLAH bunyi-bunyian……Sampai akhirnya ia berteriak sekeras-kerasnya.

‘TEMAAANNNNN … AKU INGAT…AKU INGAT. AKU INGAT GREDAG…AKU INGATGREDAG… di malam nyepi … Para buta kala…yah aku ingat1 Serempak, tubuh-tubuh lainyapun mengikuti bunyi gong itu. suara yang awalnya hampa, berubah lebih sarat muatan tak terlihat. Wajah-wajah beku yang mengitarinya pun mulai mengeluarkan bunyi-bunyian…hu…hu…hak…! Berulang-ulang dengan monoton.

Dari sebuah kondisi liminal atau ambang, gerak itupun mulai menemukan bentuknya. Kawat-kawat yang mengingkari otak itu mulai merekat satu sama lain, membentuk simpul-simpulnya menjadi jalinan rapi. Sel-selnya saling bersinggungan, menghasilkan sebuah setrum yang membangkitkan memori…dan ingatan merekapun mulai menjadi. Pikiranya mulai mampu mengategorikan oposisi siang-malam, pria-wanita. Sementara oposisi baik-buruk tak muncul dari otaknya, melainkan dari pecahan kaca yang menyembul lewat hatinya. Kawat-kawat diwajahnya pun saling mengkerut membentuk anyaman bibir sehingga merekapun bisa berucap…”Aku tahu dimana aku sekarang, karena aku tahu ada kalaada sekala ada niskala -ada realitas maya.”
Sementara itu, gerakan tubuh-tubuh itu semakin keras, seiring gong yang dipukuli oleh kaki-kaki. Kitapun menari bersama hingga 7 hari malam. Batas ambang terlewtkan, sakral dan profan tertembus hingga ke akar-akarnya mencapai ekstase. Dan tubuh-tubuh itupun akhirnya diam dan lemas. Tak ada lagi gerak !
Tiba-tiba suara dari kejauhan berteriak ke arahku…’

KAMU TELAH MEMBUNUH MEREKA. KAMU MATI TANPA TUBUH-TUBUH ITU.” TIDAK. aku tidak membunuh mereka! Mereka telah membunuh mereka! Mereka telah menemukan dirinya sendiri dan pergi. Setidaknya… mereka telah menemukan dirinya. Dan gong itupun menunggu tabuhan berikutnya… agar siapapun semakin kuat mengenal dirinya! dan tak ada lagi penindas, penipu yang mampu memperdaya bangsa ini.

Sebuah vignet oleh Ade Tanesia, Editor [aikon!] media alternatif Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *