Api

” Api ”

by Sudarna Putra

AWAS “API” …….!

(Membaca karya-karya I Wayan Sudarna Putra)

Nyala api, di samping memberikan manfaat dan kehangatan, sekaligus menyembunyikan kecemasan. Jika anda atau kita semua beku, kedinginan, atau sebaliknya panas terbakar, pasti karena ceroboh, lalai, ngawur, atau tak pandai memeliharanya atau memainkannya, di samping memang sudah demikian takdimya. Karena itu, awas api … …… ! Sambil berharap agar api tak mati, mari kita waspada. bahkan curiga terhadapnya.

“Api” dalam kehidupan kita (juga dalam dunia gagasan kita) menghadirkan dirinya dalam kenyataan yang multi dimensi. la dapat berupa realitas yang ‘berwujud’ suatu panas dan cahaya yang berasal dari sesuatu yang terbakar atau menyala, atau sebagai ungkapan atau metafora yang menggambarkan adanya situasi ‘panas’. Karena kenyataan semacam itulah, maka”api” baik sebagai kenyataan maupun kiasan menjadi multifungsi.

Pelukis muda dari generasi 95-an, 1 Wayan Suda ma Putra, secara menarik menggunakan “api” sebagai titik pijak karya-karyanya. Sudama Putra (kelahiran Ubud, Bali,15 April 1976), rupanya sedang ‘bermain api’.” Termasuk api kreatif yan gada di dalam dirinya.

Karya-karya lukisannya yang dibuat antara tahun 2000-2001 terbingkai ke dalam tema api. Namun secara keseluruhan dapat dilihat, bahwa karya-karya Sudama menggunakan idiom tubuh dalam posisi beraksi (gerak) untuk menuturkan gagasan-gagasannya. Karya-karyanya, meski dengan teknik perwujudan dan perupaan yang tertib, tetap menyimpan tendensi political dalam pengertian berdampak secara kuat. Karyanya memiliki kekuatan untuk mengganggu sensitivitas dan sensibilitas penikmatnya
.
Melalui karyanya dapat dibaca (setidaknya dapat diduga) bahwa Sudama memang memiliki ‘kenakalan’ dalam hal menggoda asosiasi. Ia dengan ringan hati seperti menyerukan, “tolong pada siapapun juga, janganlah bermain api, padamkanlah api yang menjilat dengan air, tolong pada para pemimpin berikan keteduhan,berikan perhatian pada orang kebanyakan”.Seruannya itu kemudian diwujudkan menjadi sejumIah adegan dalam bidang gambar; figur-figur yang seringkali karikatural, mengisyaratkan adegan, dan hampir semuanya bertumpu pada gesture.

“Api” sebagai tema berhasil digarap Sudarna dengan menarik. Ia dapat ke luar masuk antara “api” yang nvata (ditampakkan secara visual). maupun “api” sebagai muatan, sebagai metafora (diisyaratkan sejumlah pose atau adegan, atau gesture berbagai figur). Adapun yang ditampakkan Sudarna, sesungguhnya tetap bermuara pada “api” yang menyala atau yang meredup, yang di dalam atau di luar diri, yang dihela oleh kesadaran jiwa.

Karena itu pula, “api” sebagai tema dalam lukisan Sudarna menyiratkan dua hal sekaligus, yaitu api yang berwatak memberi, menghangatkan, menyelamatkan, bahkan menyejukkan, dan api yang berwatak menganeam, menghardik, dan bahkan memusnahkan. Dalam bahasa Bali ada istilah “api upin” yang berarti jangan meniup api, karena ada dua kemungkinan akibatnya. Kemungkinan pertama api mati, kemungkinan kedua api justru membesar, Dengan kata lain, jika ingin memadamkan api, hams menggunakan keeermatan dan kesadaran jiwa untuk mengukur; misalnya seberapa besar jika harus meniup, atau saat kapan dianggap tepat jika harus menyiram air. Kapan sesungguhnya kita membutuhkan”api”berskala kecil, dan kapan kita membutuhkan”api” dalam skala sedang atau besar, dan seterusnya.

Mari kita coba melihat bagaimana Sudarna menggarap “api” dalam lukisan-ยท lukisannya.Pada karya-karya awal ketika ia mulai menggarap tema ini (sekitar pertengahan tahun 2000), api ditampakkan seeara visual. Karya jenis ini dapat dilihat pada Nyalakan Api (2000), Ada Asap, Ada Api (2000), Cermin Diri (2001), Api Upinl (2001), atau karya Main Hakim Sendiri (2000). Seeara umum, dalam karya-karya itu “api” dihadirkan seolah menjadi sumber persoalan, dan kemudian mengakibatkan kemuraman atau kegelapan situasi.Api yang berwatak menganeam dan membakar, bukan api yang memieu semangat dan menghangatkan.

Kita juga dapat melihat, bahwa “api” dalam karya-karya Sudarna juga berposisi sebagai sebab dan akibat sekaligus. Sebagai sebab, karena ia berpotensi membakar. Sebagai akibat, karena ia hanyalah korban dari sesuatu yang terjadi (maka menyalakan api, membakar hati, pikiran, perasaan, siapa pun, bahkan dapat memusnahkan harapan).

Pada perkembangan berikutnya, “api” eenderung tidak lagi ditampakkan dalam bidang gambar. Kini kita melihat bahwa Sudarna menyodorkan “api” dengan lebih mengendap dan ‘dingin’. Ya, dingin. “Api” yang mengisyaratkan adanya harapan dan keteduhan. Mari kita perhatikan misalnya karya Adiluhung, 200 x 420 em (2001). Karya berukuran relatif besar, terdiri dari enam figur pria dan perempuan (dalam enam panel), mengenakan busana kebesaran Jawa (kira-kira bergaya basahan), yang berdiri tegap, dengan latar belakang bunga kamboja putih yang tengah mekar.Perhatikan pula apa yang dibawa; setiap figur menenteng tali yang ujungnya digantungi sandal jepit. “Saya hanya mau katakan, bahwa siapapun mereka yang sedang berkuasa atau memiliki kekuasaan, tolong jangan lupa memberikan perhatian pada rakyat biasa”, kata Sudarna menjelaskan. Barangkali ia benar, sebab, di sanalah, pada rakyat biasa, tersimpan “api” yang sangat besar, yang dapat menghangatkan, menyejukkan, atau sebaliknya dapat membakar musnah.

Karya berikut ini, Perang, 200 x 725 em (2001), memang tak menampakkan wujud api, namun jelas memuat api yang berkobar. Karya ini memikat; menyodorkan adegan perang, figur manusia dan kuda bertarung, kuda terhempas, manusia terlernpar, panah terbang dan menghujam, tampak hiruk pikuk. Memang, karya ini tampak steril, akibat dari kecermatan (kerapihan) teknik yang menjadi kebiasaan Sudarna.Tetapi itulah, resiko ketika perang telah mengalami pecanggihan dalam dunia gagasan dan rekonstruksi (seperti yang sering kita saksikan pada film-film bertema perang, justru menjadi indah).

Lihat pula bagaimana cara Sudarna menggambarkan bersemayamnya api spirit Bali, tanah kelahirannya. Ia mengungkapkannya melalui karya Bali Spirit, 145 x 300 em (2001), sekelompok babi yang sedang bercengkrama, dan di setiap telinga para babi itu terselip bunga (sepatu atau kamboja?) wama merah, kuning, dan pink. Spirit Bali yang pelan-pelan sesungguhnya mulai tergusur. Babi sebagai simbol (kekayaan, kepemilikan, status, dan sebagainya) barangkali kini tinggal bersarang dalam memori masyarakat Bali, seiring dangan industri pariwisata yang melaju pesat. Babi, barangkali akan segera menjadi masa lalu masyarakat Bali.

Begitulah cara Sudarna Putra bertutur dan beropini. Tema “api” terbukti merupakan ruang yang luas untuk dijelajahi, dan memberikan berbagai kemungkinan penuturan.Karya-karyanya mengundang pembacaan dan pemaknaan yang berlapis-lapis.

Sudarna Putra, termasuk Pande Ketut Taman, Putu Sutawijaya, Made Toris, Mangku Mahendra, Agung Mangu Putra, kemudian Nyoman Masriadi, Wayan ‘Suklu’ Sujana, Made Sutakesuma, Nyoman Sujana, atau Ketut Susena, merupakan generasi baru Bali, yang tidak lagi memanggul beban tentang identitas tradisi Bali. Mereka telah rnelesat, merespon dengan kritis dan personal, tentang apapun yang menggoda dirinya. Generasi pasca-Bali rupanya sedang tumbuh dengansubur dan kuat.

Suwarno Wisetrotomo
Kritikus Seni Rupa, Pengajar di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (lSI) Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *