Menulis Imajinasi

” Menulis Imajinasi ”

by Gusti Alit, Ridi Winarno, Dyan Anggraini Hutomo

July 19th – August 15th 2003

MENULIS IMAJINASI
Sebuah Novel Visual dari Tiga Pelukis

Bila kehidupan ditulis dengan kata-kata, maka lahirlah pelbagai risalah tekstual: pada buku-buku, pada puisi, pada novel umumnya sastrawan. Kata-kata yang menjadi kalimat oleh penulis itu membagikan pengalaman kehidupannya kepada kita. Dari situ, terkuak pelbagai hal; tentang pengetahuan, tentang pengalaman, dan dengan romantik: deru, debu kehidupan yang disajikan dengan tekstual.

Sama halnya dengan pameran ini. Pembacaan oleh perupa ini adalah pelibatan diri juga dengan kehidupan. Sebuah pembacaan dari pengalaman mikro hingga makro dari para perupa ini, pendeknya dari momen “Besar” hingga momen privat. Dan disini, dapat kita nikmati bahwa lukisan-lukisan ini sebagai produk dari pembacaan oleh para perupa ini, dan bagi saya, karya-karya ini tidaklah murni mengisahkan fbrmalisme bentuk-an sich, tapi dibaliknya mengandung pelbagai cerita , pelbagai hal, dan disitu ada artikulasi atas momen-momen khusus (seperti yang terlihat pada judul -judul karya mereka ).
Yang bagi para perupa ini dianggap menyentuh , menggelitik dan membuncahkan pelbagai pertanyaan.

Representasi apakah yang dihadirkan ketiga perupa ini ?
Representasi karya ini dihadirkan secara imajinatif. Gusti Alit misalnya adalah bahasa abstrak. Pada Ridi Winamo merupakan figuratif, demikian pada Dyan Anggraini, yang simbolik. Walaupun ketiga perupa ini menampilkan tiga corak yang berbeda, bukanlah suatu persoalan. Inilah ciri-karakter yang teramat personal sifatnya, oleh karena itu menjadi sangat menarik, dan merupakan keaslian tersendiri kala menikmatinya.

Ada subyect matter yang cukup jelas pada lukisan-lukisan mereka; tentang beragam peranan sosial yang disimbolkan sebagai topeng oleh Dyan, figur-figur manusia dan sesekali ada binatangnya pada lukisan Ridi, dan Gusti Alit yang bermain dengan komposisi tekstur sebagai simbol itu sendiri.

Maka terbayanglah-minimal oleh saya; bahwa lukisan-lukisan ini adalah hasil kerja dari ‘menulis(sebuah) imajinasi ‘. Imajinasi berbeda dengan fantasi, dan dengan ilusi. Dengan ilusi adalah pembengkokan realitas, lalu fantasi merupakan ranah tanpa asal-usul realitas , dan imajinasi yang masih bertolak dan membicarakan realitas. Terkatakan lagi disini , bahwa karya ini merupakan tulisan dari imajinasi mereka. Pada kanvas-kanvas itu dapat kita lihat hasil dari ‘tulisan imajinasi’ mereka.Disini pula ‘estetikasi atas imajinasi’ itu dapat kita saksikan; seperti pada stilisasi topeng dengan latar nuansa surealis pada Dyan, garis-garis naif pada figur dan obyek lukisan Ridi, kosmologi tebal tipis tekstur, torehan warna dan tarikan garis pada lukisan Gusti Alit

Apa yang dapat kita petik dalam membaca karya senirupa mereka?
Tentu sebuah keniscayaan bagi kita menafsirnya dengan preferensi masing-masing, dengan kata lain ini adalah kekayaan tafsir. Lepas dari itu, ada yang bisa dicatat disini, bahwa karya-karya ini bukanlah karya yang bercorak formalistik; yang tidak menyatakan apa-apa diluar hal-hal garis, warna dan bidang. Namun, para perupa ini, dan umumnya dalam peraktik sehirupa disini, memperlihatkan corak karya dari sebuah kesadaran kolektif (Collective Conciousness), yang membedakan diri dengan tradisi formalisme dalam seni lukis modern barat. Oleh karenanya, layaknya novel, lukisan-lukisan ini bagisaya, hadir dengan menuturkan beragam cerita secara visual, yaitu padalukisan-lukisan itu sendiri.
Inilah percakapan yang bisa dihantarkan pada pameran ini, semoga penafsiran dan percakapan ini tidak berhenti sampai disini, namun akan terus membuka kemungkinan pembacaan-pembacaan lainnya

Selamat berpameran.
A Sudjut Dartanto (Pemerhati Seni Rupa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *